Tuesday, March 31, 2020

11 Pasien Positif Virus Corona di Jakarta Barat Sembuh

11 Pasien Positif Virus Corona di Jakarta Barat Sembuh
Sebanyak 144 orang di Jakarta Barat positif virus corona.
Red: Nur Aini
    00 0
The Central Hospital of Wuhan via Weibo/Hando
(Ilustrasi) Petugas Kesehatan di Rumah Sakit merawat pasien yang diduga terpapar virus corona.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebanyak 11 pasien positif terinfeksi virus corona atau  Covid-19 di Jakarta Barat dinyatakan sembuh. Hal itu berdasarkan data kesehatan wilayah tersebut yang terakhir tercatat pada Senin (30/3).

Baca Juga:

Jokowi: Darurat Sipil Kalau Kondisi Abnormal
Pekan Ini Pemerintah Putuskan Soal Karantina Wilayah
Penyemprotan Disinfektan Fasum di Kabupaten Semarang
"Data hingga Senin (30/3) kemarin ada 11 pasien warga Jakarta Barat yang berhasil sembuh. Semoga angkanya terus bertambah," kata Wali Kota Jakarta Barat, Rustam Effendi di Jakarta, Selasa (31/3).

Hal tersebut menunjukkan pertambahan jumlah pasien positif Covid-19 yang sembuh, setelah sebelumnya tercatat sembilan pasien yang mengalami kesembuhan. Sementara itu, jumlah total warga Jakarta Barat yang positif corona pada Senin (30/3) masih stagnan dibandingkan dua hari sebelumnya, yakni berjumlah 144 orang.

Kemudian, jumlah orang dalam pemantauan (ODP) di Jakarta Barat sebanyak 325 orang, dan 326 orang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP). Untuk jumlah pasien yang meninggal akibat Covid-19 di Jakarta Barat mencapai sepuluh orang.

Rustam kembali mengimbau warganya untuk lebih berhati-hati dan waspada menjaga kesehatan.

"Untuk sekian kalinya saya mohon dengan sangat kepada masyarakat (khususnya) masyarakat Jakarta Barat untuk tak keluar rumah bila tidak perlu sekali, melakukan jaga jarak, berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi serta menyemprotkan disinfektan secara rutin," ujar Rustam.

Rustam menerangkan, jika ada tanda-tanda terinfeksi seperti suhu badan tinggi, batuk, sesak nafas, tenggorokan sakit, dan lemas agar segera hubungi layanan sambungan cepat Gugus Tugas Covid 19 Jakarta Barat berikut:

dr. Dian 081617006662

dr. Dika 085725009305

Berita Terkait
Pesan Ronaldo Soal Perang Melawan Corona
Penyemprotan Disinfektan Fasum di Kabupaten Semarang
Berlakukan PSBB, Jokowi: Tiap Negara Punya Ciri Khas Sendiri
Kisah Orang Brasil Naik Haji
Arab Saudi Tanggung Seluruh Biaya Pengobatan Pasein Covid-19
Merebut Kue Industri Makanan Halal Global
dr. Santayana 081398323130

"Selanjutnya ikuti terus perkembangan informasi seruan dan instruksi resmi dari pemerintah semoga wabah corona ini segera mereda dan berakhir," ujar Rustam.

Sumber: https://m.republika.co.id/berita/q81whg382/11-pasien-positif-virus-corona-di-jakarta-barat-sembuh

Dua Pasien Covid-19 di Bali Sudah Sembuh

Dua Pasien Covid-19 di Bali Sudah Sembuh
Dua orang pasien Covid-19 di Bali dinyatakan sembuh setelah melalui perawatan medis oleh tim kesehatan, tetapi tidak disebutkan identitasnya.
5
 Luh Putu Sugiari - Bisnis.com
31 Maret 2020 - 10:18 WIB

Sel virus corona - istimewa
A+ A-
Bisnis.com, DENPASAR— Dua orang pasien Covid-19 di Bali dinyatakan sembuh setelah melalui perawatan medis oleh tim kesehatan, tetapi tidak disebutkan identitasnya.



Ketua Satgas Penanggulangan Covid-19 Bali Dewa Made Indra tidak menyebutkan apakah kedua pasien tersebut merupakan warga negara Indonesia atau warga negara asing. Hanya ditegaskan bahwa keduanya kini sedang dalam persiapan untuk pulang kembali ke rumahnya.



"Mereka sudah dilakukan 2 kali test, dan hasilnya negatif, saat ini sedang persiapan untuk pulang," katanya, Senin (30/3/2020).



Dia mengatakan saat ini total pasien positif Covid-19 atau virus Corona di Bali sebanyak 19 orang atau mengalami penambahan sejumlah 9 orang, yakni 1 orang WNA dan 8 orang WNI.  Dari total yang terinfeksi tersebut, sebanyak 3 pasien mendapatkan virus akibat adanya transmisi lokal, yakni pernah berinteksi dengan kasus positif sebelumnya. Adapun 5 orang lainnya karena datang dari luar negeri.



"Dengan adanya transmisi lokal ini, yang merupakan orang Bali asli, maka Satgas Covid-19 sedang menyiapkan peta persebaran khusus di Bali," ungkapnya.



Dalam menyikapi wabah covid-19 ini, Satgas tetap menghimbau kepada seluruh masyarakat Bali, untuk tetap waspada bahkan meningkatkan kewaspadaanya karena penyebaran covid-19 menunjukan tren peningkatan di tingkat nasional.



"Covid-19 bukan sesuatu yang ditanggapi dengan remeh, tetapi harus dengan kewaspadaan yang tinggi," tegas Dewa Indra.



Meski sudah ada yang sembuh dari Covid-19, Dia kembali menegaskan kepada masyarakat untuk terus mengikuti ajakan dan himbauan pemerintah untuk menjaga jarak satu dengan lainnya, untuk mengurangi interaksi fisik dan mengurangi aktivitas-aktivitas di luar rumah.

Sumber: https://m.bisnis.com/bali/read/20200331/537/1220129/dua-pasien-covid-19-di-bali-sudah-sembuh

MPR Desak Jokowi Keluarkan Kebijakan Penanggulangan Corona Secara Terbuka

MPR Desak Jokowi Keluarkan Kebijakan Penanggulangan Corona Secara Terbuka
Wakil Ketua MPR Syarief Hasan meminta Presiden Jokowi menjelaskan secara terbuka kebijakan yang diambil untuk mengatasi Virus Corona. Menurutnya kebijakan tersebut diperlukan untuk menyelamatkan masyarakat dari serangan pandemi ini.
 Rayful Mudassir - Bisnis.com
31 Maret 2020 - 13:01 WIB

Syarief Hasan Foto:Antara
A+ A-
Bisnis.com, JAKARTA - Wakil Ketua MPR Syarief Hasan meminta Presiden Jokowi menjelaskan secara terbuka kebijakan yang diambil untuk mengatasi Virus Corona. Menurutnya kebijakan tersebut diperlukan untuk menyelamatkan masyarakat dari serangan pandemi ini.

Pemerintah diminta tidak menunda untuk mengeluarkan kebijakan untuk mengatasi penyebaran Corona. Pasalnya menurut dia jumlah korban terus meningkat selama 30 hari terakhir.

“Jangan biarkan rakyat gelisah dan tidak tentram, jangan keliru mengambil kebijakan, jangan biarkan rakyat berspekulasi, utamakan kepentingan rakyat,” katanya di Jakarta, Selasa (31/3/2020).

Adapun hingga Senin (30/3/2020) pukul 12 siang, tercacat sebanyak 75 pasien dinyatakan sembuh dari Covid-19, 122 meninggal dunia dan pasien positif bertambah menjadi 1.414 kasus.

"Ada penambahan kasus konfirmasi positif sebanyak 129 kasus baru. Sehingga total menjadi 1.414 positif. Penularan di luar masih terjadi, kasus positif masih bertambah, saya mengingatkan kembali untuk jaga jarak," ungkap Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto di Graha BNPB, Jakarta, Senin (30/3/2020).

Dari angka tersebut, pasien sembuh bertambah 11 orang, sementara pasien meninggal bertambah 8 kasus dibandingkan dengan satu hari sebelumnya. Adapun pada Minggu (29/3/2020), tercatat 1.285 kasus positif COVID-19, 114 orang meninggal dan 64 orang sembuh.

Sementara itu, Syarief Hasan meminta pemerintah melakukan satu koordinasi kebijakan dengan daerah. Langkah ini menurutnya lebih efektif mengatasi penyebaran Corona.

Sumber: https://m.bisnis.com/kabar24/read/20200331/15/1220216/mpr-desak-jokowi-keluarkan-kebijakan-penanggulangan-corona-secara-terbuka

UN 2020 Dihapus karena Pandemi Covid-19

UN 2020 Dihapus karena Pandemi Covid-19, Warganet: Diganti Ujian Hidup

Oleh Yulia Lisnawati pada 24 Mar 2020, 16:00 WIB
Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan untuk membatalkan Ujian Nasional atau UN 2020, untuk seluruh jenjang Pendidikan dari tingkat dasar, hingga menengah atas.
Keputusan tersebut sebagai bagian dari sistem respons pandemi Covid-19, yang salah satunya adalah pengutamaan keselamatan kesehatan rakyat. Seperti yang telah disampaikan bahwa sistem respons Covid-19 harus menyelamatkan kesehatan rakyat, daya tahan sosial dan dunia usaha.
"Peniadaan UN menjadi penerapan kebijakan social distancing (pembatasan sosial) untuk memotong rantai penyebaran Virus Corona SARS 2 atau Covid-19," kata Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman kepada wartawan, Selasa (24/3/2020).
Mendikbud Nadiem Makarim pun menanggapi keputusan untuk menghapus UN 2020. Menurutnya keputusan tersebut demi melindungi keamanan dan kesehatan para siswa.
"Prinsip dasar Kemendikbud adalah keamanan dan kesehatan siswa-siswi kita dan keamanan keluarga siswa-siswi itu kalau melakukan UN di dalam tempat-tempat pengujian bisa menimbulkan risiko kesehatan," kata Mendikbud Nadiem melalui video kompres, Selasa (23/3/2020).


2 dari 3 halaman

Respons Warganet

Keputusan Presiden Jokowi dan Mendikbud Nadiem menghapus Ujian Nasional 2020, pun membuat publik, khususnya para pengguna jejaring sosial terkejut.
Pantauan tim Citizen6-Liputan6.com, di lini masa Twitter, banyak warganet menanggapi keputusan itu dengan berbagai respons. Banyak yang merasa senang dan sedih. Namun, ada pula warganet yang menanggapinya dengan guyonan.
Berikut beberapa respons warganet menanggapi Ujian Nasional 2020 dihapus karena pandemi Covid-19.
"Ujian nasional diganti ujian hidup," komentar akun @___icaalndr.
"Gara gara Covid 19, Ujian Nasional SD, SMP, SMA dibatalkan. Terus kemarin yang minta putus dengan alesan; "aku mau fokus UN dulu." gimana ya? Bakal balikan ngga?" kata akun @plesbol_.
"Ujian nasional ditiadakan tp ujian hidup tetap menerjang," tulis akun @creamylatae.
"Berarti ujian nasional terakhir pas smp dong itupun make keetas wkwkwwk sedih gapernah unbk," sahut akun @ddalkiugyu

Sumber: https://m.liputan6.com/citizen6/read/4210129/un-2020-dihapus-karena-pandemi-covid-19-warganet-diganti-ujian-hidup

Setelah Gejala Sembuh, Pasien COVID-19 Masih Bisa Menyebarkan Virus

Studi : Setelah Gejala Sembuh, Pasien COVID-19 Masih Bisa Menyebarkan Virus
Beberapa orang yang terinfeksi virus Corona (COVID-19) masih berpotensi menyebarkan virus hingga delapan hari setelah gejala hilang.

Dythia Novianty | Lintang Siltya Utami
Selasa, 31 Maret 2020 | 14:00 WIB

Pandemi Virus Corona Covid-19. (Shutterstock)

Suara.com - Sebuah penelitian yang dilaporkan dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine  menyatakan bahwa beberapa orang yang terinfeksi virus Corona (COVID-19) masih berpotensi menyebarkan virus hingga delapan hari setelah gejala hilang.

Para ilmuwan dari China mengambil swab tenggorokan secara teratur dari 16 pasien yang terinfeksi COVID-19, yang dirawat dan dipulangkan di sebuah rumah sakit di Beijing antara 28 Januari dan 9 Februari 2020.

Para ahli menemukan bahwa timbulnya gejala atau masa inkubasi adalah lima hari di antara 15 pasien, kecuali satu pasien dengan durasi rata-rata gejala delapan hari. Rata-rata pasien tampak "melepaskan" virus kembali selama 2,5 hari setelah gejala hilang, meskipun ini berkisar antara satu hingga delapan hari.

Pelepasan virus ini menunjukkan bahwa pasien masih bisa menularkan virus, sampai taraf tertentu, dari satu hingga delapan hari setelah mereka mulai merasa baik. Meskipun masih belum ada kejelasan seberapa menular pasien ini selama periode pemulihan, para ahli menyebut risiko tertular tetap ada.

"Temuan paling signifikan dari penelitian kami adalah bahwa setengah dari pasien terus melepaskan virus bahkan setelah gejala hilang. Infeksi yang lebih parah mungkin memiliki waktu pelepasan virus yang lebih lama," ucap Dr Lokesh Sharma dari Yale School of Medicine, seperti dikutip laman IFL Science.

Semua pasien memiliki gejala yang relatif ringan, sehingga tidak jelas apakah temuan ini berlaku untuk orang yang mengalami gejala yang lebih parah atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang terganggu.


Meski begitu, penemuan ini menegaskan bahwa orang yang pulih dari COVID-19 harus tetap melakukan isolasi diri bahkan setelah gejala membaik.



Penanganan pasien virus corona. (Antara)
"Pasien COVID-19 masih dapat menularkan virus bahkan setelah pemulihan simptomatiknya, jadi obati pasien asimptomatik atau pasien yang baru pulih dengan hati-hati seperti pasien simptomatik," tambah Sharma.

Saran mengisolasi diri tersebut juga sering diimbau oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyarankan orang dengan gejala COVID-19 harus mengkarantina diri sendiri selama 14 hari setelah gejala pertama muncul.

Beberapa orang mungkin berpikir durasi dua minggu adalah waktu berlebihan untuk isolasi diri, tetapi lamanya waktu itu penting untuk memastikan virus tidak lagi menginfeksi siapa pun di dalam rumah. Seperti yang ditunjukkan oleh penelitian baru ini, satu orang dapat tetap terinfeksi COVID-19 bahkan seminggu setelah gejala mereka hilang.

Sumber: https://www.suara.com/tekno/2020/03/31/140000/studi-setelah-gejala-sembuh-pasien-covid-19-masih-bisa-menyebarkan-virus

Kabar Duka, 12.298 Petugas Kesehatan Positif Corona.

Kabar Duka, 12.298 Petugas Kesehatan Positif Corona
Senin, 30 Maret 2020 – 23:29 WIB

Ilustrasi wabah corona. Foto: diambil dari Marca
   
jpnn.com, MADRID - Wakil kepala darurat kesehatan di Spanyo mengonfirmasi, sebanyak 12.298 petugas kesehatan di Negeri Matador itu positif tertulari virus corona.

Angka itu setara dengan sekitar 14 persen dari 85.195 kasus COVID-19 di negara tersebut, kurang lebih jumlah yang sama seperti pekan lalu.

Jumlah kematian global akibat COVID-19 naik menjadi 30.105 hingga pukul 18:00 Waktu Eropa Tengah pada Minggu (29/3), menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Baca Juga:
Ratusan Orang Bertahan di Masjid Kebon Jeruk, Enggan Pindah ke RS Darurat Corona
Sebanyak 638.146 kasus COVID-19 dilaporkan secara global, dengan 555.790 kasus di antaranya berada di luar Tiongkok. Amerika Serikat melaporkan 103.321 kasus infeksi, menurut sistem informasi WHO.

Selain itu, negara-negara yang terdampak paling parah virus corona dengan masing-masing lebih dari 50.000 kasus terkonfirmasi seperti Italia, Spanyol dan Jerman, mencatat hampir 220.000 total infeksi hingga Minggu sore.

Di Eropa, episentrum pandemi COVID-19 dunia, 20.000 orang lebih meninggal, dengan 2.753 kematian dilaporkan dalam 24 jam terakhir hingga Minggu pagi, menurut laporan kondisi harian WHO.

Baca Juga:
Bu Ade Yasin Tak Rela Warga Jakarta Sembunyi di Puncak saat Wabah Corona
Corona Rambah Israel, Perdana Menteri Diisolasi
Berdasarkan laporan, jumlah kasus baru terkonfirmasi dalam 24 jam terakhir di Eropa tercatat di atas 36.000 selama tiga hari berturut-turut. (reuters/antara/jpnn)

Sumber: https://m.jpnn.com/news/kabar-duka-12298-petugas-kesehatan-positif-corona

Aktivis HAM Kritik Rencana Jokowi Terapkan Darurat Sipil.

Aktivis HAM Kritik Rencana Jokowi Terapkan Darurat Sipil
Selasa, 31 Maret 2020 – 15:12 WIB

Ilustrasi Corona Covid-19. Foto: pixabay
   
jpnn.com, JAKARTA - Aktivis HAM Natalius Pigae menilai kebijakan Presiden Joko Widodo menetapkan Darurat Sipil dalam menghadapi virus Corona membuktikan kepala negara tidak memahami siapa lawannya. Pigae mengingatkan bahwa virus Corona bukan lawan fisik, melainkan nonfisik.

"Kita harus pahami bahwa virus Corona harus dihadapi bukan dengan cara perang konvensional, tetapi perang melawan kuman. Ancamannya bukan militer dan nyata, tetapi ancaman kuman yang tidak terlihat. Dua cara perang yang berbeda," kata Pigae dalam keterangan yang diterima JPNN.com, Selasa (31/3).

Oleh karena itu, Pigae menyarankan pemerintah harus menyiapkan sistem layanan kesehatan khusus untuk mengobati virus Corona secara memadai sampai di polosok.

Baca Juga:
Cegah Penyebaran Corona, Pemerintah Bentuk Relawan Desa Tanggap Covid-19
Pigae juga mengingatkan pemerintah tidak melibatkan banyak profesi lain dalam penanganan virus Corona ini. Pigae meminta perintah menyiapkan tenaga profesional dan perawat secara masif.

"Integrasikan layanan kesehatan tersebut dengan layanan kesehatan atau instalasi kesehatan militer," kata dia.

Selain itu, lanjut Pigae, pemerintah bisa mengajak universitas dan lembaga penelitian untuk mengembangkan teknologi dan obat antikuman. Terakhir, negara harus menyiapkan anggaran yang cukup untuk menghadapi ancaman virus Corona.

Baca Juga:
Ini Tugas-tugas Relawan Desa Mencegah Penularan Corona
Pigae menerangkan, pemerintah menerapkan Darurat Sipil sama dengan kudeta negara pada kebebasan sipil. Pigae menilai pemerintah bakal semakin otoritas dan beringas kepada rakyat, dan itu akan menentang kehendak umum tentang demokrasi, HAM dan keadilan.

"Saya tolak Darurat Sipil karena justru menyebabkan kematian tidak terkontrol pada rakyat yang terancam dari kuman, ekonomi, namun tidak berani berekspresi tentang kondisi orang-orang lemah di Indonesia. Apa pun alasannya, kami tegas menolak Darurat Sipil di Indonesia," kata mantan Komisioner Komnas HAM itu. (tan/jpnn)

Sumber : https://m.jpnn.com/news/aktivis-ham-kritik-rencana-jokowi-terapkan-darurat-sipil